Apa kabar Iman? Berdo’alah “KUATKAN RABB”

Strengthen Ur Iman

Strengthen Ur Iman

Apakabar Imanmu hari ini?

Wahai iman, Apakah ia masih bersemayam dan tumbuh subur di hati? Ataukah telah lama layu dan semakin memudar? Wahai iman, semoga manisnya masih bisa kita kecap dalam setiap sendi kehidupan. Menemani setiap cabaran yang begitu dahsyatnya di masa akhir zaman.

Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubanaa ‘Alaa Thaa’atik

Artinya: “Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.” (HR. Muslim)

Saya tergelitik dengan sebuah obrolan ringan kala itu dengan mamah saya (begitu saya biasa memanggil wanita pendamping bapakku ini). Ketika itu saya pernah meminta kepada mamah saya untuk tidak pernah lupa mendo’akan saya agar tahun ini (2014) segala urusan dimudahkan dan dilancarkan terutama yang menyangkut urusan saya baik itu kelulusan studi saya, atau target – target lainnya di tahun ini.

Mamah saya waktu itu protes karena ini adalah permintaan entah yang kesekian kalinya dari saya. Ia menegaskan “Ga usah dipinta mamah tiap ba’da sholat ga pernah lewat buat do’ain kamu, kakak kamu, si dede , bapak dan semuanya”. Saya nyengir aja diprotes seperti itu. “iya mah, kan cuman ngingetin aja, hehe” ucap saya beradu demo santun.

Betul juga dan sangat betul. Tanpa dipinta, tanpa dituntut dan tanpa harus ada surat perintah pikiran dan hati seorang ibu akan selalu terpaut pada orang-orang yang dikasihinya (siapa lagi kalau bukan anak dan suami tercinta) lewat sujud – sujud malam dan tengadah tangannya dalam do’a. Barisan do’a yang dipanjat pada awal permintaan bukan lagi hanya untuk nama dan kepentingannya, namun nama anak-anak dan suaminya lah serta kepentingan mereka yang keluar dan terlontar pertama kali. “Kalau berdo’a, mamah sebut nama kalian dulu sebelum kemudian nama mamah di sebut paling akhir” begitu ibu saya mencurahkan isi hati.

Kembali ke permintaan do’a saya. Saya ulangi sekali lagi redaksi permohonan tersebut, “mah, jangan lupa ya do’ain aku supaya tahun ini bisa lulus studi, tidak ditunda-tunda dan tidak ada halangan, sama satu lagi target dan niat baik tahun ini semoga diberi kelancaran dan kemudahan juga ya mah, do’ain ya mah jangan lupa loh” senyum simpul saya lampirkan bersama dengan rentetan kalimat bawel saya.

“terus apa lagi?” timpal ibu saya

“ya semuanya deh mah, do’ain supaya dikasih kesehatan, rezekinya juga lancar kan biaya tingkat akhir juga lumayan numpuk, eh bukan lumayan lagi tapi emang beneran numpuk mah”.

“Udah itu aja request do’anya? Ga ada yang lupa?”

“emm….” Sebelum satu kata mengudara ibu saya melanjutkan.

“MINTA DIKUATKAN IMAN ITU YANG PENTING”

“eh ?”

“Kamu dikasih sehat, rezeki banyak, tapi kalau kamu ga kuat iman ga minta dikuatkan iman, percuma”

“Minta dikuatkan iman, itu yang terpenting dulu.”

Tak ada penjelasan panjang lebar berlanjut. Saya merenungi dan membuat penjabaran sendiri dari kalimat sederhana itu.

Ah kenapa dengan diri ini? Lupa akan harta paling berharga yang dimiliki. Hanya Iman di hati sebagai harta yang tak akan bisa terganti. Banyak saya mendengar pula jika orang-orang atau bahkan saya sendiri jika ditanya apa harapan hari ini, minggu ini, bulan ini,atau tahun ini (bertepatan dengan hari ulang tahun) banyak yang melantangkan suara berharap di-aamiin-kan tentang rezeki yang banyak, sehat sejahtera, lancar-lancar, mapan, sukses dan lain-lainnya.

Saya benarkan juga dan benar sekali. Seringnya terlupa bahwa iman adalah pondasi utama dalam menatap dan menjalani kehidupan kita. Apa yang kita pinta hanya seputar perkara dunia. Bagaimana dengan kesiapan kita jika diuji dengan segala permintaan duniawi yang terkabul? Apakah hati dan iman yang bersemayam di dalamnya akan mempu membentengi dari segala ujian dan godaan dunia? Jika dikabulkan rezeki di dunia berlimpah ruah, kesehatan dan kesuksesan, akankah kala itu iman kita mampu menghalau badai ujian penyakita hati seperti tamak, sombong, kikir atau bahkan cinta berlebih terhadap harta yang dimiliki sementara namun bukan pemilik sejatinya. Maka memang manusia yang lemah iman dan yang tak luput dari khilaf, patut untuk meminta perlindungan penjagaan NYA dari kelemahan iman agar dikuatkan dan diteguhkan.

Tak salah jika kita meminta kesehatan, rezeki berlimpah, kemapanan dan atau kesuksesan. Namun seharusnya pula kita memohonkan penjagaan dariNya rabbulizzatii agar iman kita kokoh berdiri menjadi tiang hati. Agar ia lekat menjadi pembalut hati dan agar ia tak padam menjadi penerang hati.

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

 

Allahu a’lam wastaghfirullaah.

Faqir Ilallaah.

Agar fokus dan konsentrasi Sertakanlah Hati

1385280_526962284046716_404014680_nSaya bukan termasuk aliran fokusisasi atau konsentrasisasi.. (hehe lebay bin Maksa). Karena saya ini tidak terlalu pandai menjaga konsentrasi atau kondisi focus. Orang seperti saya biasanya mudah terganggu dengan hal-hal apapun yang terjadi di sekitar. Pyaar!!. Buyar semua pikiran yang sudah hampir penuh dengan konsentrasi.

Seperti halnya hari ini. Kala siang itu saya memutuskan untuk mencari tempat berlabuh baru selain di kamar rumahku. Di kamar kecil ukuran 3X3 yang sudah sering saya jadikan tempat semedi untuk belajar, menjelajah buku-buku bacaan akhirnya terasa membosankan. Karena rasa bosan yang menggerayangi ubun-ubun, hari ini saya hendak mencari suasana baru untuk menunjang konsentrasi saya dalam menyelesaikan tugas karya tulis terakhir saya sebagai mahasiswa. Akhirnya saya putuskan untuk memilih satu tempat yang saya anggap dan imajinasikan sebagai tempat alternatif yang mampu membangkitkan konsentrasi berfikir dan berlajar saya. Sebuah masjid agung yang berpusat di keramaian kota kecil saya. Disanalah bangunan yang saya yakin bisa memberikan kesejukan dan ketentraman. In syaa Allaah rumah Allah ini bukan hanya sebagai tempat ritual ibadah kita sebagai kaum muslimin. Namun kita juga dianjurkan untuk menjadikan masjid sebagai center of Tarbiyah atau pusat pembinaan, baik secarra ruhaniyah, jasadiyah maupun fikriyah.

Singkat cerita saya sudah meluncur dan tiba di tempat destinasi. Tak terasa 30 menit saya asyik mematut layar netbook, tiba-tiba seorang ibu muda berdaster warna pudar motif bunga-bunga menghampiri saya. Ia berdiri tepat disamping saya yang sedang duduk selonjoran dengan netbook di pangkuan. Mulutnya membuka dan berujar “Neng, Bagi uang neng buat makan”. Saya yang sudah parno duluan agak gugup menjawab permintaan si ibu tersebut. “I-ini aja bu ada makanan, mau?”.

“MAU”, jawab si ibu berdaster itu dengan agak manja. Saya sodorkanlah 2 bungkus makanan kecil yang barusan saya beli untuk cemilan. Si ibu itu langsung cabut tanpa bilang makasih dan sejenis ucapan lainnya. Saya agak lega rasanya karena tak ada kejadian aneh-aneh yang sudah saya imajinasikan negative sebelumnya. Karena sedikit berkaca pada pengalaman tempo dulu, saya juga pernah diganggu seorang wanita muda yang ternyata memiliki gangguan mental. Dan kejadian itu pada tempat yang sama sekarang. Hhuuft.

Akhirnyaa Yaa sudahlah, 10 menit kemudian saya tidak bisa merasakan konsentrasi penuh lagi. Terus-terusan tengok kanan-kiri-depan. Takut-takut ada orang aneh lain yang mau ganggu. Kemudian aktifitas saya sudah tak menarik lagi, kondisi tempat yang saya diami sudah tak nyaman lagi. Daaaann… akhirnya saya memutuskan pulang.

Begitulah menjaga konsentrasi dan kondisi focus. Butuh keselarasan. Selaras dengan kondisi hati. Meski dimanapun kita berdiri, duduk, tiduran supaya bisa konsentrasi agak sulit rasanya kalau hati sudah tidak bisa diajak kompromi.

Wallahu a’lam bishawab.

 

 

Kecantikan wanita disamping kita

asAlhamdulillaah di usia muda masih dianugrahi fisik dan jasad yg kuat in syaa-a Allaah. Para wanita bahkan mungkin senang dengan perawatan fisik agar senantiasa sehat dan cantik. (*Tak masalah karna keindahan dan kebersihan adalah tuntutan-asal tidak untuk ditampakkan berlebihan selain pada muhrimnya ). Jari jemari dan tangan yang bersih, segar dan masih halus (*Hamdalah wasyukurillah).

Tapi aduhai diri ini seringkali terlupa bahwa ada wanita disamping kita yg mungkin sudah tak sempat memikirkan hal-hal seperti kebiasaan para wanita muda dengan seabrek perawatan kecantikannya. Bahkan untuk mengoleksi paket –paket perawatan yang banyak menggoda para kaula muda, tak ada dalam benaknya. Wanita ini terlalu sibuk akan tanggung jawabnya utk mengurusi rumah, suami dan anak2nya.

Sekali-dua atau cobalah sesering mungkin menyapa dan melihat dengan seksama jari jemari, telapak dan punggung tangan ibu kita. Ya Ibu,Ummah, umi, dan panggilan umum lainnya bagi wanita yang telah berkorban jiwa dan raga bagi anak-anaknya.

Malam itu, selesai shalat maghrib berjamaah bersama adik bungsu,ayah, ibu dan saya sendiri. Kami biasa melakukan dzikir bersama hingga 20-30 menit lamanya dengan dipandu ayah kami. Tiba-tiba saat dzikir, ibu saya menyodorkan tangannya sebagai pertanda ia ingin kesukarelaan saya untuk memberikan pijatan spesial baginya. Diraihlah tangan ibu saya. Kala itu saya memijat bagian punggung dan pergelangan tangannya. Tak ada komentar dari mulut ibu saya karena ia sedang sibuk dengan lantunan dzikir. Berbarengan dengan aktifitas berdzikir, tangan saya lincah memijat , pandangan saya tak lepas teruju pada bagian yang sedang saya pijat.

Lama berselang kemudian pikiran saya menari-nari mengimajinasikan sosok wanita pemilik tangan ini sedang sibuk mengurusi rumah, keperluan si bungsu dan ayah dari semenjak ia terbangun pagi-pagi sekali hingga menjelang ia tidur larut malam. Inilkah. Inikah tangannya yang senantiasa gesit berkelana memegang apapun yang bisa dibereskan dan dikerjakan di rumah. Tangan yang tak begitu halus lagi, tak begitu mulus lagi, dan tak begitu kuat lagi.

Pijatanku mulai melemah berbarengan dengan kembang kempisnya nafas menahan buncahan air diujung mata. Apa yang sudah saya perbuat selama ini? Bersikap acuh dan tak peka dengan kerja kerasnya selama ini. Rabbii, ampuni hamba yang selalu lalai. Melalaikan perhatian pada orang terkasih disampingku. Jika dapat mulut ini berkata jujur dengan lantang ingin saya katakan “MAAFKAN ANAKMU INI YANG TAK BEGITU DAPAT BERBAKTI PADAMU IBU”. Namun bibir ini kelu. Hanya pijatanku yang  mampu berkata-kata sendu “Aku ingin berbakti lebih lagi padamu ibu”.

Menyibukkan diri dengan kepentingan dan kesibukan sendiri dan terlalai dengan orang-orang disekitar adalah sikap seorang pengecut dan egois. Semoga sebagai seorang anak kita harus mampu memberikan service terbaik kepada ibu dan ayah kita agar mereka tak dibebankan dengan segala tuntutan yang tak ada ujungnya dari kita. Bergegaslah memberikan uluran tangan kita selapang mungkin untuk membantu apa saja keperluan mereka, sebelum saatnya tak ada kesempatan lagi untuk berbakti dan mungkin tak sempat lagi karena umur yang tak kita memiliki pengetahuan akan sampai batas mana, atau mungkin saat tanggung jawab kita nanti beralih pada sosok laki-laki baru yang akan menjadi  sumber surgaNya dari ridho suami kelak. Sebelum semuanya hanya menjadi kenangan dan penyesalan. Allahu a’lam summana’udzubillahi mindzalik wastaghfirullaah.

Hati yang ingin terpaut

Adakah kita pernah merasakan masa penantian yang begitu menyesakkan dan mendebarkan menuju sebuah  masa yang akan memberikan ruang bagi sesosok laki-laki baru dalam hidup kita , selain dari pada ayah kita?. Dia yang akan bersiap sedia menggantikan posisi tanggung jawab ayah kita sepanjang masa.

Ataukah … Yang dirasa mungkinkah tak begitu memberikan debar-debar menggoda?

Muslimah, hati kita pancaran shirat dari NYA. Maka apa-apa yang menjadi pertimbangan kita cobalah tengok kedalam hati yang paling dalam. Yang menjadi ruang fitrah kita sebagai insan.

Jika ingin terpautkan hati kita dengan sosok lelaki yang sedang dalam masa penantian menuju pernikahan, maka tak ada jalan lain untuk terus menautkan diri ini kepada Rabbul izzatii. Memohonkan dalam istikharah panjang kita agar Dia berkenan menautkan ketenangan dan kemantapan dua hati yang ingin terpaut karena cinta Ilahi…

Keraguan yang menelisik

Ketika hati kita meragukan sesuatu. Maka berdo’alah untuk ketenangan kita pada sang maha pemilik ketenangan. Mohonkan petunjuk padanya agar yang kita ragukan jika tak baik adanya Allah berkenan segera menjauhkannya. Namun jika hanya letupan-letupan kecil dari api keraguan yang ditiupkan oleh Syaitan, maka mohonkan perlindungan dan petunjuk yang terbaik pada Nya. Kita serahkan segala pengetahuan yang belum kita ketahui kepada yang Maha mengetahui. Segala perkara yang ghoib adalah kuasa Allah semata.

Melapangkan Hati untuk meminta dan memberi maaf

Bismillaahirrahmaanirrahiim

‘audzubillaahiminassyaitaanirrajiim.

Muslimah, seandainya kita tak punya hati kemana kita akan bertanya jika gundah gulana menyapa.
Muslimah, kapan terakhir kita bermuhasabah diri. Sudahkah itu menjadi kebiasaan setiap waktu.
Bermuhasabah. Sebuah proses yang akan mematangkan dan lebih mendewaskan. Karena kita akan senantiasa bercermin dari kesalahan dan menjadikan kita lebih baik dengan perubahan yang konsisten.

Muslimah, mari kita bermuhasabah. Sudah seberapa bermanfaatnyakah kita di dunia ini.? Sudahkah kehadiran kita memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi orang-orang di sekitar. Apakah kehadiran kita tidak membuat orang lain selalu berburuk sangka pada kita.?

Muslimah, engkau wanita yang sangat senstif dengan hati. Memang seorang lelaki pun bisa demikian, namun perempuan bermain lebih banyak menggunakana hati.

Muslimah, saat kita menuntut agar orang lain mengerti kita sudahkah kita pula bisa mengerti orang lain?. Sikap kita yang acuh dan tak mementingkan perasaan orang lain apakah adil jika kita pula yang menuntut orang lain mengerti kita. Tidak Muslimah. Tidak. Engkau menjadi manusia yang egois kala itu juga.

Muslimah, perbaikilah sikapmu terhadap saudara-saudara, teman, sahabat dan tetangga rumahmu. Pentingkanlah perasaan orang lain jika kita akan berbuat sesuatu terhadap mereka. Namun tak juga membuat kita menjadi orang yang kaku.

Muslimah, jika kita adalah termasuk orang yang tak peka atau acuh pada sekitar, maka perbaikilah dan menjadilah muslimah yang penuh perhatian pada teman, keluarga, saudara dan orang-orang disekitar kita. Perbaikilah prasangka buruk kita menjadi kebiasaan berprasangka baik pada saudara-saudara kita.

Muslimah, jangan sungkan untuk meminta maaf jika engkau merasa ada satu dua kekeliruan yang mungkin orang lain rasakan tak nyaman. Sikap kita yang acuh dan meremehkan kesalahan kecil kita dan berharap orang mau faham dan memakluminya, itu adalah keliru. Jangan buat orang lain di sekitar kita membenci kita karena perbuatn kita sendiri. Berusahalah untuk bersikap lapang dada untuk meminta maaf dan memaafkan.

“Ya allaah mohon ampunkan aku jika salah dan dosaku selalu ku pupuk setiap waktu. Jangan biarkan hubunganku dengan saudara-saudara seimanku menjadi hancur dan buruk. Berikan kesempatan kepadaku untuk menjadi lebih baik lagi dan mohonkan lunakkan hati mereka-mereka yang beprasangka buruk dan bersikap tak baik padaku. “

Muslimah, belajar dari sebuah pohon. Jika ia mendapakan lemparan batu, maka ia memberikan lemparan buah-buahan yang ia punya. Begitu pun dengan kita. Mari sama-sama berintrospeksi. Lunakkan hati dan lisan kita untuk mau meminta maaf pada saudara kita atas segala kesalahan dan kekurangan kita. Karena kesalahan yang kita anggap sepele sekalipun tak selalu hilang begitus aja. Jika itu membuat orang lain tak nyaman, maka akan membekas lebih lama dan mungkin bisa membesar. Na’udzubillahimindzaliiik wastaghfirullaah.

 

Wanita biasa berharap istimewa

Aku hanya seorang wanita biasa. Bahkan sangat biasa mungkin. Namun jika ingin berbangga, pastilah aku punya sesuatu yang istimewa, karena Tuhanku Allah azza wajalla tak menciptakan insan yang sama. Berbeda-beda. Ya, yang Berbeda itu menurutku adalah yang istimewa. Lalu berbeda yang bagaimaa? Istimewa yang seperti apa? Engtahlah. Semoga bukan sesuatu yang buruk. Tak mungkin. Karena biasanya Istimewa identik dengan kebaikan. In syaa Allaah.

Serial 1-

420032_470747516334860_629102631_n“Duh gusti, kamu toh jadi gadis mbo ya harus ngerti urusan dapur ndo. Mana tadi ibu suruh kamu nanak nasi trus kukus timun?” dari arah dapur ibuku setengah berteriak .

“Udah Zi kerjain semua bu” Sahutku yang sedang mencari sesuatu di laci lemari televisi.

“iya sudah. Tapi lihat kerjaan kamu sini.” Perintah ibuku

Sambil bergegas ke dapur kusahut pelan, “Apa lagi yang kurang bu?”

“ini liat. kenapa kamu nanak nasi ga pake kain dulu? Terus timunnya kamu nda kupas, kenapa?” omel ibuku sambil membuka tutup panci.

“Loh, emangnya ibu kalau nanak nasi pake kain?” kalo timun itu jangan di kupas bu, kan vitaminnya ada di kulitnya.”

“Jadi sekarang ibu yang salah?. Atau kamu yang memang ga pernah mau belajar dari kesalahan.? Memangnya baru pertama ini kamu keliru kalau ibu suruh?” Akhirnya buncah amarah ibu lewat rentetan kata-katanya.

Dari sebelah ruang dapur sayup terdengar suara bapak memanggil, “Bu obeng yang kemarin di pake bapa disimpan dimana?”

Bergantian aku mendengarkan suara wanita paruh baya di depanku “Zi kamu itu mau sampe kapan ngutet –ngutet terus depan laptop mu itu. Kamu itu… ”

“Bu, obeng bapa..” tepat satu langkah di belakangku suara seorang lelaki menggema, belum ia melanjutkan ibuku sudah memotong kata-katanya.

“Obeng yang mana toh pa? Obeng tetangga yang bapa cari?”

“Kenapa toh kesel-kesel gitu? Bapa kan tanya karna nda tau bu.”

“ Ya mesti bapa nda tau, wong belum dicari ta” Sementara mereka beradu argumen,aku menelan ludah dan terpaku pada is panci dengan perasaan bersalah.

“Ibu kalau nda…” sebelum bapakku melanjutkan aku berusaha melerai. “Wis toh. Zi yang salah. Zi minta maaf. Biar zi yang beresin semuanya.”
Aku maju mendekati panci yang bertengger di atas kompor gas yang tak berapi lagi. Melihatnya dengan mata nanar. Pelan-pelan ku ambil satu persatu timun yang sudah sedikit melayu. Sambil menahan isak aku berujar

“Obeng bapa zi liat ada di laci lemari televisi ”.

Mungkin ibu dan bapakku tau anak bungsunya sedang menahan tangis. Mereka sedikit terdiam di belakangku. Tiba-tiba terdengar dengan jelas suara lantang orang yang mengetuk pintu, “Assalaamu’alaikum…. Punteen…”
Membuyarkan keheningan. Ibu dan Bapakku menyahut berbarengan “Wa.. wa’alaikumsalam… !”

(19 Nov-13) (20.00)

-To be Continue ……..

Espisode Pengantin Baru :)

Derap suara kaki ber-high heels-nya menandakan ia dalam suasana hati cerah. Semangatnya mengepul dihujani senyuman renyah yang ia persembahkan bagi para peserta didiknya. Menghangatkan. Bahkan ia bagai matahari yang rela bergeser mundur mengibas mendung dan gerimis hujan di sore ini.

Desas desus para murid dihadapannya meributkan rona aura sebagai pengantin baru. Kata mereka. Tas bermotif bunga yang ia bawa menarik perhatian. Dengan pesona seorang wanita elegan dan fashionable, ia menyimpan tas bermereknya hati-hati sekali. 1/2 jam per kecepatan gerakan. Jari-jari panjangnya merogoh lembut tasnya yang berisikan I-pad, Buku absen, tempat pensil dan terakhir smartphone keluaran terbaru. Satu persatu ia keluarkan dan dengan telaten dijejerkannya tak beraturan di atas meja. Aku masih memperhatikan.

Aku masih mengamatinya saat bibir-bibir usil disampingku merongrong perdebatan dengan tema ‘Aura Sang Pengantin Baru’.
Ada yang berbeda dari setiap sisinya bagi seorang pengantin baru. Bisa jadi Keberkahan yang sang illah berikan bagi pasangan pengantin itu. ku aamiin – kan. Semoga ia menjadi istri yang mampu meneduhkan hati suami nya dengan keindahan akhlakul karimah.
Pikiranku buyar seiring dengan geledek menggelegarkan daun kupingku. CHanel ku berubah. Fokusku beralih. Saatnya perkuliahan dimulai.

*Bertahan dalam Rayuan TUHAN….*

Mengoyak  Lembaran  Sayap  Bersangkar
Dijamah  Aroma  layu  Tangkai  Bercabang
Langkah  Perlahan  Seperti  Mulai  Memudar
Padahal  BUkan ini  Yang  Ku  inginkan, TUHAN…

Akankah  aku  Hangus  Terlindas  Waktu
Padahal  Aku  tak  Ingin  Hanya  Menjadi  Seonggok  Daging  dan  Tulang  yang  Tak  berartii, TUHAN…

Aku  INgin  Bertahan…
Meski  Lorong  Rahang  Mereka  Mengekang..
Aku  INgin  Bertahan…
Walau  Orang-orang  datang  Dan  pergi  Mengusir  Keramaian..
HIngga  Waktu  Akhirku  Tak  BIsa  Bertahan,, TUHAN…

>> entah ini puisi atau bukan, yang kutau hanya ingin melepaskan kesesakan dalam rangkaian dan baris kata-kata, ku tuliskan saat perasaan ini mulai membuncah di ujung senja. terimakasih untuk penaku, notebook-ku, dan seperangkat catatan harianku.. 

ISMI HADIYATILLAH

Bil Hikmah Wal Mau'izhaah Hasanah

LIFE OF STARDUST

Luciuous Blogs

Haryhidayat's Blog

Selamat datang di situsnya anak jabranti. Semoga situs ini bermanfaat buat pengunjungnya.

Game.Iso

Kalau mau berusaha pasti ada jalan, jangan berputus asa, dan terus semangat untuk menampiilkan kreativitas.

FSLDK Semarang Raya

Just another WordPress.com site

setapak langkah hidup

menjalani kehidupan, membuat jejak yang membekas dalam jiwa seorang manusia, langkah demi langkah untuk sebuah perubahan.. menyongsong pertemuan dengan Tuhan

Fauzi Noerwenda

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

jefi's file 2.0

Welcome to my life